civil engeenering

teknik sipil wordpress


Leave a comment

BAHAN STRUKTUR

1. Beton

Untuk struktur kolom, sloof, balok lantai dan plat lantai digunakan beton dengan kuat tekan beton yang disyaratkan, fc’ = 25 MPa (setara dengan beton K-300). Modulus elastis beton, Ec = 4700.Öfc’ = 2,35.104 MPa = 2,35.107 kN/m2. Angka poison, u = 0,20. Modulus geser, G = Ec/ [ 2.( 1 + u ) ] = 0,98.107 kN/m2.

 

2. Baja Tulangan

Untuk baja tulangan dengan Æ > 12 mm digunakan baja tulangan ulir BJTD 40 dengan tegangan leleh baja, fy = 400 MPa. Untuk baja tulangan dengan Æ £ 12 mm digunakan baja tulangan polos BJTP 24 dengan tegangan leleh baja, fy = 240 MPa. Modulus elastis baja, Es = 2,1.105 MPa.

3. Baja Profil

Mutu baja profil yang digunakan untuk struktur baja harus memenuhi persyaratan setara dengan BJ-37.

 
 

JENIS BEBAN

1. Beban mati (Dead load)

Beban mati yang merupakan berat sendiri konstruksi (specific gravity) menurut Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F), adalah seperti table berikut :

No

Konstruksi

Berat

Satuan

1

Baja

7850

kg/m3

1

Beton bertulang

2400

kg/m3

2

Beton

2200

kg/m3

3

Dinding pas bata ½ bt

250

kg/m2

4

Dinding pas bata 1 bt

450

kg/m2

5

Curtain wall+rangka

60

kg/m2

6

Cladding + rangka

20

kg/m2

7

Pasangan batu kali

2200

kg/m3

8

Finishing lantai (tegel)

2200

kg/m3

9

Plafon+penggantung

20

kg/m2

10

Mortar

2200

kg/m3

11

Tanah, Pasir

1700

kg/m3

12

Air

1000

kg/m3

13

Kayu

900

kg/m3

14

Baja

7850

kg/m3

15

Aspal

1400

kg/m3

16

Instalasi plumbing

50

kg/m2

 

 

2. Beban hidup (Live load)

Beban hidup yang bekerja pada lantai bangunan Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F), adalah seperti tabel berikut :

No

Lantai bangunan

Beban hidup

Satuan

1

Hall,coridor,balcony

300

kg/m2

2

Tangga dan bordes

400

kg/m2

4

Lantai bangunan

250

kg/m2

5

Lantai atap bangunan

100

kg/m2

 

  1. 3. Beban gempa (Earthquake)

Beban gempa dihitung berdasarkan Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) dengan 2 metode yaitu cara statik dan dinamik. Dari hasil analisis kedua cara tersebut diambil kondisi yang memberikan nilai gaya atau momen terbesar sebagai dasar perencanaan.

  1. a. Metode Statik Ekivalent

Gaya geser dasar nominal pada struktur akibat gempa dihitung dengan rumus sebagai berikut :

V = C . I / R .Wt

Dengan, C= nilai faktor response gempa, yang ditentukan berdasarkan wilayah gempa (Gambar 1), kondisi tanah dan waktu getar alami.

Wilayah gempa : zone 5.

Kondisi tanah : lunak

Waktu getar alami gedung, T = 0,68 deitk < x.n = 0,16.6 = 0,96 detik.Untuk T = 0,68 detik, dari kurva diperoleh : C = 0,85. R = faktor reduksi gempa representatif. Untuk taraf kinerja struktur gedung daktail parsial, maka : Faktor daktilitas, m = 4. Ditetapkan kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam struktur : f1 = 1,6. Maka :R = m .f1 = 4.1,6 = 6,4.

F= gaya horisontal pada masing-masing taraf lantai

I = faktor keutamaan (diambil, I = 1)

W= jumlah beban mati dan beban hidup yang direduksi yang bekerja di atas taraf penjepitan lateral. Faktor reduk diambil = 0,5

Koefisien gempa rencana = C . I / R = 0,85.1/ 6,4 = 0,13. Analisis statik dilakukan dengan meninjau secara bersamaan 100% gempa arah X dan 30% gempa arah Y, dan sebaliknya.

 

b. Metode Dinamik Response Spectrum

1) Besar beban gempa ditentukan oleh percepatan gempa rencana dan massa total struktur. Massa total struktur terdiri dari berat sendiri struktur dan beban hidup yang dikalikan dengan faktor reduksi 0,5.

2) Percepatan gempa diambil dari data zone 5 Peta Wilayah Gempa Indonesia menurut Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) dengan memakai spektrum respons yang nilai ordinatnya dikalikan dengan koreksi I/R = 1/6,4 seperti tabel di bawah. Percepatan grafitasi diambil, g = 981 cm/det2.

Tabel 1. Nilai spectrum terkoreksi

Waktu getar (detik)

Nilai spectrum

 

Nilai spectrumterkoreksi

0.0

0.32

0.05

0.2

0.83

0.13

0.6

0.83

0.13

1.0

0.50

0.08

1.5

0.33

0.05

2.0

0.25

0.04

2.5

0.20

0.03

3.0

0.17

0.02

3) Analisis dinamik dilakukan dengan metode superposisi spectrum response. dengan mengambil response maksimum dari 4 arah gempa, yaitu 0, 45, 90, dan 135 derajat.

4) Digunakan number eigen NE = 3 dengan mass partisipation factor ³ 90 % dengan kombinasi dinamis (CQC methode)

3) Karena hasil dari analisis spectrum response selalu bersifat positif (hasil akar), maka perlu faktor +1 dan –1 untuk mengkombinasikan dengan response statik.

 

  1. c. Metode Time History Analysis

Analisis dinamik linier riwayat waktu (time history) sangat cocok digunakan untuk analisis struktur yang tidak beraturan terhadap pengaruh gempa rencana. Mengingat gerakan tanah akibat gempa di suatu lokasi sulit diperkirakan dengan tepat, maka sebagai input gempa dapat didekati dengan gerakan tanah yang disimulasikan. Dalam analisis ini digunakan hasil rekaman akselerogram gempa sebagai input data percepatan gerakan tanah akibat gempa. Rekaman gerakan tanah akibat gempa diambil dari akselerogram gempa El-Centro N-S yang direkam pada tanggal 15 Mei 1940. Dalam analisis ini redaman struktur yang harus diperhitungkan dapat dianggap 5% dari redaman kritisnya. Faktor skala yang digunakan = g x I/R dengan g = percepatan grafitasi (g = 981 cm/det2).

 

 4. Beban Angin

Beban angin minimum pada bangunan yang terletak cukup jauh dari tepi laut dihitung berdasarkan kecepatan angin 20 m/detik pada ketinggian 10 m di atas permukaan tanah dengan rumus : P = V2/16

P = tekanan tiup angin (kg/m2)

V = kecepatan angin (m/det)

Tabel 2. Beban angin dasar

Ketinggian dari muka tanah

Beban angin dasar (kg/m2)

0 m – 10 m

25

10,1 m – 20 m

35

20,1 m – 30 m

43

30,1 m – 50 m

56

50,1 m – 70 m

66

70,1 m – 100 m

79

Beban angin tersebut harus dikalikan dengan koefisien tekanan angin sesuai ketentuan Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F).

 
 Tabel 2. Beban angin dasar
 
Spectrum gempa wilayah 5
 
 
 
Wilayah gempa di Indonesia
 
 

KOMBINASI PEMBEBANAN

Semua komponen struktur dirancang memiliki kekuatan minimal sebesar kekuatan yang dihitung berdasarkan kombinasi beban sbb. :

1) Kombinasi 1,4.D

2) Kombinasi 1,2.D + 1,6.L

3) Kombinasi 1,2.D + Lr ± E

4) Kombinasi 0,9.D + E

5) Kombinasi 0,9.D + 1,2.L + 1,2.W

6) Kombinasi 0,9.D + 1,3.W

Dengan :

D = beban mati (Dead load)

L = beban hidup (Live load)

Lr = beban hidup yang direduksi.

E = beban gempa (Earthquake)

W = beban angin (Wind)

 
 
 
Model Struktur Gedung Bank BRI-Aceh


Leave a comment

PERHITUNGAN STRUKTUR GEDUNG BANK BRI ACEH

Analisis struktur bangunan Gedung BRI Kanwil dan Kanca, Banda Aceh dilakukan dengan program komputer berbasis elemen hingga (finite element ) untuk berbagai kombinasi pembebanan yang meliputi beban mati, beban hidup, beban angin, dan beban gempa dengan pemodelan struktur 3-D ( space-frame) menggunakan Software ETABS. Analisis terhadap beban gempa digunakan cara statik ekivalen maupun dinamik response spectrum analysis dan time history analysis. Struktur bangunan dirancang mampu menahan gempa rencana sesuai peraturan yang berlaku yaitu SNI 03-1726-2002 tentang Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung. Dalam peraturan ini gempa rencana ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun, sehingga probabilitas terjadinya terbatas pada 10 % selama umur gedung 50 tahun. Berdasarkan pembagian Wilayah Gempa, lokasi bangunan di Banda Aceh, termasuk wilayah gempa 5 (wilayah dengan intensitas gempa tertinggi kedua setelah wilayah 6) dengan percepatan puncak batuan dasar 0,25.g (g = percepatan grafitasi = 9,81 m/det2).. Konsep perancangan konstruksi didasarkan pada analisis kekuatan batas (ultimate-strength) yang mempunyai daktilitas cukup untuk menyerap energi gempa sesuai peraturan yang berlaku.
 
 
 
Model Struktur Gedung Bank BRI Aceh


Leave a comment

PERATURAN DAN STANDAR JEMBATAN


Leave a comment

PERHITUNGAN STRUKTUR JEMBATAN

GambarDATA JEMBATAN SRANDAKAN II

Tipe Jembatan : Beton Prategang
Kelas Jembatan : I (Bina Marga)
Jumlah bentang : 3 bentang
Panjang tiap bentang : 40.8 m
Lebar jembatan : 19 m
Fondasi Jembatan : borepile
Down-load contoh perhitungan berikut ini : 

 

DATA JEMBATAN TEBING RUMBIH KALSEL

Tipe Jembatan : Beton Prategang
Kelas Jembatan : I (Bina Marga)
Jumlah bentang : 1 bentang
Panjang bentang : 50.8 m
Lebar jembatan : 9 m
Fondasi Jembatan : tiang pancang baja
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

<style=”font-family: arial,helvetica,sans-serif;=”” font-size:=”” small;=””>


Berikut ini diberikan contoh Perhitungan Struktur Box-Girder Prategang 
bentang 50 m untuk Gejayan dan Jombor Fly Over, Yogyakarta 
Down-load contoh perhitungan berikut ini : 

Contoh perhitungan Voided Slab untuk bagian jembatan yang
melengkung dapat di-down load perhitungan berikut ini : 

 


Berikut ini contoh perhitungan T-Girder untuk Jembatan Brantan, Wates,
Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Down-load perhitungan berikut ini :

 

 

Berikut ini contoh perhitungan I-Girder untuk Jembatan Ngawen,
Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta. Down-load perhitungan berikut ini :
 

Berikut ini contoh perhitungan Compossite Girder untuk Jembatan
Bonjok, Kebumen, Jawa Tengah. Down-load perhitungan berikut :

 


Berikut ini contoh perhitungan Under Pass di bawah jembatan layang
Jombor Fly Over, Yogyakarta. Down-load perhitungan berikut : 


Berikut ini contoh perhitungan Box-Culvert untuk Jembatan Kalibayem,
Sleman, D.I. Yogyakarta. Down-load contoh perhitungan berikut ini : 

 

DATA JEMBATAN WANAGAMA

Tipe Jembatan : Plat Lengkung
Kelas Jembatan : II (Bina Marga)
Bentang Jembatan : 35 m
Lebar Jembatan : 5 m
Fondasi Jembatan : fondasi langsung (foot plat)
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

Berikut ini contoh Input Beban Jembatan Sarjito II Yogyakarta
yang dianalisis dengan Program SAP2000 v-11 

 

PERHITUNGAN PIER TIPE KOLOM TUNGGAL

Pier jembatan tipe kolom tunggal banyak digunakan pada fly over.
Berikut ini contoh perhitungan Pier untuk Gejayan Fly Over, Yogyakarta.
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

 

PERHITUNGAN PIER TIPE PORTAL

Pier jembatan tipe portal sering digunakan pada jembatan yang melintasi
sungai yang dalam. Berikut ini diberikan contoh perhitungan Pier untuk.
Jembatan Boro, Kebumen, Jawa Tengah.
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

 

PERHITUNGAN STRUKTUR 

KENTUNGAN FLY OVER YOGYAKARTA

Berikut ini Contoh Perhitungan Struktur Jembatan Layang (Fly Over) Kentungan, 
Yogyakarta dengan data teknik sebagai berikut :
1. Struktur atas berupa prestressed concrete box-girder tipe continuous 
    girder dua bentang dengan panjang tiap bentang 50 m.
2. Pier tipe dinding beton bertulang dengan bentuk “Y”.
3. Jenis fondasi bore pile diameter 120 cm dengan kedalaman 20 m.

 

PERHITUNGAN JEMBATAN PLAT (SLAB BRIDGE)

Struktur jembatan plat (slab bridge) terdiri atas plat lantai kendaraan dan fondasi tiang yang sekaligus berfungsi sebagai tiang penyangga (pier) seperti pada jembatan jetty.
Down-load contoh perhitungan slab bridge berikut ini :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.