civil engeenering

teknik sipil wordpress


Leave a comment

BAHAN STRUKTUR

1. Beton

Untuk struktur kolom, sloof, balok lantai dan plat lantai digunakan beton dengan kuat tekan beton yang disyaratkan, fc’ = 25 MPa (setara dengan beton K-300). Modulus elastis beton, Ec = 4700.Öfc’ = 2,35.104 MPa = 2,35.107 kN/m2. Angka poison, u = 0,20. Modulus geser, G = Ec/ [ 2.( 1 + u ) ] = 0,98.107 kN/m2.

 

2. Baja Tulangan

Untuk baja tulangan dengan Æ > 12 mm digunakan baja tulangan ulir BJTD 40 dengan tegangan leleh baja, fy = 400 MPa. Untuk baja tulangan dengan Æ £ 12 mm digunakan baja tulangan polos BJTP 24 dengan tegangan leleh baja, fy = 240 MPa. Modulus elastis baja, Es = 2,1.105 MPa.

3. Baja Profil

Mutu baja profil yang digunakan untuk struktur baja harus memenuhi persyaratan setara dengan BJ-37.

 
 

JENIS BEBAN

1. Beban mati (Dead load)

Beban mati yang merupakan berat sendiri konstruksi (specific gravity) menurut Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F), adalah seperti table berikut :

No

Konstruksi

Berat

Satuan

1

Baja

7850

kg/m3

1

Beton bertulang

2400

kg/m3

2

Beton

2200

kg/m3

3

Dinding pas bata ½ bt

250

kg/m2

4

Dinding pas bata 1 bt

450

kg/m2

5

Curtain wall+rangka

60

kg/m2

6

Cladding + rangka

20

kg/m2

7

Pasangan batu kali

2200

kg/m3

8

Finishing lantai (tegel)

2200

kg/m3

9

Plafon+penggantung

20

kg/m2

10

Mortar

2200

kg/m3

11

Tanah, Pasir

1700

kg/m3

12

Air

1000

kg/m3

13

Kayu

900

kg/m3

14

Baja

7850

kg/m3

15

Aspal

1400

kg/m3

16

Instalasi plumbing

50

kg/m2

 

 

2. Beban hidup (Live load)

Beban hidup yang bekerja pada lantai bangunan Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F), adalah seperti tabel berikut :

No

Lantai bangunan

Beban hidup

Satuan

1

Hall,coridor,balcony

300

kg/m2

2

Tangga dan bordes

400

kg/m2

4

Lantai bangunan

250

kg/m2

5

Lantai atap bangunan

100

kg/m2

 

  1. 3. Beban gempa (Earthquake)

Beban gempa dihitung berdasarkan Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) dengan 2 metode yaitu cara statik dan dinamik. Dari hasil analisis kedua cara tersebut diambil kondisi yang memberikan nilai gaya atau momen terbesar sebagai dasar perencanaan.

  1. a. Metode Statik Ekivalent

Gaya geser dasar nominal pada struktur akibat gempa dihitung dengan rumus sebagai berikut :

V = C . I / R .Wt

Dengan, C= nilai faktor response gempa, yang ditentukan berdasarkan wilayah gempa (Gambar 1), kondisi tanah dan waktu getar alami.

Wilayah gempa : zone 5.

Kondisi tanah : lunak

Waktu getar alami gedung, T = 0,68 deitk < x.n = 0,16.6 = 0,96 detik.Untuk T = 0,68 detik, dari kurva diperoleh : C = 0,85. R = faktor reduksi gempa representatif. Untuk taraf kinerja struktur gedung daktail parsial, maka : Faktor daktilitas, m = 4. Ditetapkan kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam struktur : f1 = 1,6. Maka :R = m .f1 = 4.1,6 = 6,4.

F= gaya horisontal pada masing-masing taraf lantai

I = faktor keutamaan (diambil, I = 1)

W= jumlah beban mati dan beban hidup yang direduksi yang bekerja di atas taraf penjepitan lateral. Faktor reduk diambil = 0,5

Koefisien gempa rencana = C . I / R = 0,85.1/ 6,4 = 0,13. Analisis statik dilakukan dengan meninjau secara bersamaan 100% gempa arah X dan 30% gempa arah Y, dan sebaliknya.

 

b. Metode Dinamik Response Spectrum

1) Besar beban gempa ditentukan oleh percepatan gempa rencana dan massa total struktur. Massa total struktur terdiri dari berat sendiri struktur dan beban hidup yang dikalikan dengan faktor reduksi 0,5.

2) Percepatan gempa diambil dari data zone 5 Peta Wilayah Gempa Indonesia menurut Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) dengan memakai spektrum respons yang nilai ordinatnya dikalikan dengan koreksi I/R = 1/6,4 seperti tabel di bawah. Percepatan grafitasi diambil, g = 981 cm/det2.

Tabel 1. Nilai spectrum terkoreksi

Waktu getar (detik)

Nilai spectrum

 

Nilai spectrumterkoreksi

0.0

0.32

0.05

0.2

0.83

0.13

0.6

0.83

0.13

1.0

0.50

0.08

1.5

0.33

0.05

2.0

0.25

0.04

2.5

0.20

0.03

3.0

0.17

0.02

3) Analisis dinamik dilakukan dengan metode superposisi spectrum response. dengan mengambil response maksimum dari 4 arah gempa, yaitu 0, 45, 90, dan 135 derajat.

4) Digunakan number eigen NE = 3 dengan mass partisipation factor ³ 90 % dengan kombinasi dinamis (CQC methode)

3) Karena hasil dari analisis spectrum response selalu bersifat positif (hasil akar), maka perlu faktor +1 dan –1 untuk mengkombinasikan dengan response statik.

 

  1. c. Metode Time History Analysis

Analisis dinamik linier riwayat waktu (time history) sangat cocok digunakan untuk analisis struktur yang tidak beraturan terhadap pengaruh gempa rencana. Mengingat gerakan tanah akibat gempa di suatu lokasi sulit diperkirakan dengan tepat, maka sebagai input gempa dapat didekati dengan gerakan tanah yang disimulasikan. Dalam analisis ini digunakan hasil rekaman akselerogram gempa sebagai input data percepatan gerakan tanah akibat gempa. Rekaman gerakan tanah akibat gempa diambil dari akselerogram gempa El-Centro N-S yang direkam pada tanggal 15 Mei 1940. Dalam analisis ini redaman struktur yang harus diperhitungkan dapat dianggap 5% dari redaman kritisnya. Faktor skala yang digunakan = g x I/R dengan g = percepatan grafitasi (g = 981 cm/det2).

 

 4. Beban Angin

Beban angin minimum pada bangunan yang terletak cukup jauh dari tepi laut dihitung berdasarkan kecepatan angin 20 m/detik pada ketinggian 10 m di atas permukaan tanah dengan rumus : P = V2/16

P = tekanan tiup angin (kg/m2)

V = kecepatan angin (m/det)

Tabel 2. Beban angin dasar

Ketinggian dari muka tanah

Beban angin dasar (kg/m2)

0 m – 10 m

25

10,1 m – 20 m

35

20,1 m – 30 m

43

30,1 m – 50 m

56

50,1 m – 70 m

66

70,1 m – 100 m

79

Beban angin tersebut harus dikalikan dengan koefisien tekanan angin sesuai ketentuan Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F).

 
 Tabel 2. Beban angin dasar
 
Spectrum gempa wilayah 5
 
 
 
Wilayah gempa di Indonesia
 
 

KOMBINASI PEMBEBANAN

Semua komponen struktur dirancang memiliki kekuatan minimal sebesar kekuatan yang dihitung berdasarkan kombinasi beban sbb. :

1) Kombinasi 1,4.D

2) Kombinasi 1,2.D + 1,6.L

3) Kombinasi 1,2.D + Lr ± E

4) Kombinasi 0,9.D + E

5) Kombinasi 0,9.D + 1,2.L + 1,2.W

6) Kombinasi 0,9.D + 1,3.W

Dengan :

D = beban mati (Dead load)

L = beban hidup (Live load)

Lr = beban hidup yang direduksi.

E = beban gempa (Earthquake)

W = beban angin (Wind)

 
 
 
Model Struktur Gedung Bank BRI-Aceh


Leave a comment

PERHITUNGAN STRUKTUR GEDUNG BANK BRI ACEH

Analisis struktur bangunan Gedung BRI Kanwil dan Kanca, Banda Aceh dilakukan dengan program komputer berbasis elemen hingga (finite element ) untuk berbagai kombinasi pembebanan yang meliputi beban mati, beban hidup, beban angin, dan beban gempa dengan pemodelan struktur 3-D ( space-frame) menggunakan Software ETABS. Analisis terhadap beban gempa digunakan cara statik ekivalen maupun dinamik response spectrum analysis dan time history analysis. Struktur bangunan dirancang mampu menahan gempa rencana sesuai peraturan yang berlaku yaitu SNI 03-1726-2002 tentang Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung. Dalam peraturan ini gempa rencana ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun, sehingga probabilitas terjadinya terbatas pada 10 % selama umur gedung 50 tahun. Berdasarkan pembagian Wilayah Gempa, lokasi bangunan di Banda Aceh, termasuk wilayah gempa 5 (wilayah dengan intensitas gempa tertinggi kedua setelah wilayah 6) dengan percepatan puncak batuan dasar 0,25.g (g = percepatan grafitasi = 9,81 m/det2).. Konsep perancangan konstruksi didasarkan pada analisis kekuatan batas (ultimate-strength) yang mempunyai daktilitas cukup untuk menyerap energi gempa sesuai peraturan yang berlaku.
 
 
 
Model Struktur Gedung Bank BRI Aceh


Leave a comment

PERATURAN DAN STANDAR JEMBATAN


Leave a comment

PERHITUNGAN STRUKTUR JEMBATAN

GambarDATA JEMBATAN SRANDAKAN II

Tipe Jembatan : Beton Prategang
Kelas Jembatan : I (Bina Marga)
Jumlah bentang : 3 bentang
Panjang tiap bentang : 40.8 m
Lebar jembatan : 19 m
Fondasi Jembatan : borepile
Down-load contoh perhitungan berikut ini : 

 

DATA JEMBATAN TEBING RUMBIH KALSEL

Tipe Jembatan : Beton Prategang
Kelas Jembatan : I (Bina Marga)
Jumlah bentang : 1 bentang
Panjang bentang : 50.8 m
Lebar jembatan : 9 m
Fondasi Jembatan : tiang pancang baja
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

<style=”font-family: arial,helvetica,sans-serif;=”” font-size:=”” small;=””>


Berikut ini diberikan contoh Perhitungan Struktur Box-Girder Prategang 
bentang 50 m untuk Gejayan dan Jombor Fly Over, Yogyakarta 
Down-load contoh perhitungan berikut ini : 

Contoh perhitungan Voided Slab untuk bagian jembatan yang
melengkung dapat di-down load perhitungan berikut ini : 

 


Berikut ini contoh perhitungan T-Girder untuk Jembatan Brantan, Wates,
Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Down-load perhitungan berikut ini :

 

 

Berikut ini contoh perhitungan I-Girder untuk Jembatan Ngawen,
Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta. Down-load perhitungan berikut ini :
 

Berikut ini contoh perhitungan Compossite Girder untuk Jembatan
Bonjok, Kebumen, Jawa Tengah. Down-load perhitungan berikut :

 


Berikut ini contoh perhitungan Under Pass di bawah jembatan layang
Jombor Fly Over, Yogyakarta. Down-load perhitungan berikut : 


Berikut ini contoh perhitungan Box-Culvert untuk Jembatan Kalibayem,
Sleman, D.I. Yogyakarta. Down-load contoh perhitungan berikut ini : 

 

DATA JEMBATAN WANAGAMA

Tipe Jembatan : Plat Lengkung
Kelas Jembatan : II (Bina Marga)
Bentang Jembatan : 35 m
Lebar Jembatan : 5 m
Fondasi Jembatan : fondasi langsung (foot plat)
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

Berikut ini contoh Input Beban Jembatan Sarjito II Yogyakarta
yang dianalisis dengan Program SAP2000 v-11 

 

PERHITUNGAN PIER TIPE KOLOM TUNGGAL

Pier jembatan tipe kolom tunggal banyak digunakan pada fly over.
Berikut ini contoh perhitungan Pier untuk Gejayan Fly Over, Yogyakarta.
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

 

PERHITUNGAN PIER TIPE PORTAL

Pier jembatan tipe portal sering digunakan pada jembatan yang melintasi
sungai yang dalam. Berikut ini diberikan contoh perhitungan Pier untuk.
Jembatan Boro, Kebumen, Jawa Tengah.
Down-load contoh perhitungan berikut ini :

 

PERHITUNGAN STRUKTUR 

KENTUNGAN FLY OVER YOGYAKARTA

Berikut ini Contoh Perhitungan Struktur Jembatan Layang (Fly Over) Kentungan, 
Yogyakarta dengan data teknik sebagai berikut :
1. Struktur atas berupa prestressed concrete box-girder tipe continuous 
    girder dua bentang dengan panjang tiap bentang 50 m.
2. Pier tipe dinding beton bertulang dengan bentuk “Y”.
3. Jenis fondasi bore pile diameter 120 cm dengan kedalaman 20 m.

 

PERHITUNGAN JEMBATAN PLAT (SLAB BRIDGE)

Struktur jembatan plat (slab bridge) terdiri atas plat lantai kendaraan dan fondasi tiang yang sekaligus berfungsi sebagai tiang penyangga (pier) seperti pada jembatan jetty.
Down-load contoh perhitungan slab bridge berikut ini :


Leave a comment

buku-buku sipil

BETON :

1. Manual for the Design of Reinforced Concrete Building Structure.pdf
2. Concrete structure project.zip
3. Chapter_10_reinforced_concrete_structures.pdf
4. Reinforced_concrete_analysis_and_design.pdf
5. Manual for design of reinforced concrete building structures to EC2 (Eurocode).pdf
6. Concrete Formwork Systems.pdf 
7. Engineering And Design – Standard Practice For Concrete For Civil Works Structures.pdf
8. Structural concrete repair by means of machines.doc
9. Design of Concrete Masonry Diaphragm Walls – CST.pdf
10. Deflection Control of Concrete Members.pdf
11. Masonry and Concrete for Residential Construction.pdf
12. Reinforced Concrete Deep Beams – Prof. F.K.Kong.pdf 
13. Seismic_design_of_reinforced_and_precast_concrete_buildings.rar
14. Design_of_Offshore_Concrete_Structures.rar
15. Standard method of detailing structural concrete.pdf
16. Strengthening of concrete beams using fiber-reinforced plastics.pdf
17. Reinforced_Concrete_Designers_Handbook_10th_Edition by reynolds steedmanCV.pdf
18. Reinforced concrete design.rar
19. Design of concrete structures book (Nilson ).pdf
20. Time-History Analysis Dynamic of Concrete Hydraulic Structures.pdf
21. NONLINEAR PUSHOVER ANALYSIS OF REINFORCED CONCRETE STRUCTURES.pdf
22. Precast concrete structures.pdf
23. Eurocode 2 Design of concrete structures.pdf
24. Concrete Ring Wall Foundation.xls
25. Flexural behaviour of reinforced concrete beams strengthened by.pdf
26. Response behavior of reinforced concrete piles sand soil.doc
27. The seismic performance of reinforced concrete frame buildings with masonary infill walls.pdf
28. PRESTRESSED CONCRETE.rar
29. ENGINEERING CONCRETE MIX DESIGN AND TEST METHODS.pdf
30. High Rise Concrete Walls.pdf
31. Design of reinforced concrete columns.doc
32. Reinforced Concrete (A Fundamental Approach)Edward G.Nawy 5t.pdf
33. Durability_of_Concrete_Structures_Investigation__Repair protection.pdf
34. Finite Element design of concrete structures.part1.rar
35. Behavior of Reinforced Concrete T-Beams Strengthened.pdf
36. Finite Element design of concrete structures.part2.rar
37. Concrete Slabs Designed With Fem.rar 
38. Testing of Concrete in Structures.pdf
39. Self_Compacting_Concrete_for_high_performance_structures.pdf
40. Reinforced concrete design to bs8110.rar
41. Prestressed Concrete.zip
42. Repair__Protection_and_waterproofing_of_concrete_structure.pdf
43. Homeworks Reinforced Concrete.rar
44. Design of prestressed concrete slabs.pdf
45. Bangash_-_Structural_Details_In_Concrete__Blackwell_Scientific_1992.pdf
46. Manual for the Design of Reinforced Concrete Building Structure.pdf
47. Concrete defects.pdf
48. Manual for design of reinforced concrete building structures to EC2.pdf
49. Design of reinforced concrete columns.doc
50. Reinforced High-Strength Concrete Beams in Flexure.pdf
51. Manual of Ready-Mixed Concrete.pdf
52. Concrete Pavement Design, Construction, and Performance.pdf
53. Concrete Books.rar
54. Precast Concrete.zip
55. Concrete Slabs.pdf
56. Theorem of optimal reinforcement for reinforced concrete.pdf
57. Aspects of behaviour of CFRP reinforced concrete beams in bending.pdf
58. Master Concrete Beam.xls
59. Design and control of concrete mix design.pdf
60. Strength and Deformation of Structural Concrete.pdf
61. Design_of_reinforced_concrete_columns.htm
62. High strength concrete paper.pdf
63. Analysis of reinforced concrete floor slabs for storm shelters_Master.pdf
64. Self-Compacting Concrete.pdf
65. Concrete LEED Reference Guide.pdf
66. Fea of reinforced concrete beams.pdf
67. LIBRO-Structural Details In Concrete.pdf
68. CALCULATION VOLUMN OF CONCRETE AND STEELS.xls
69. Foundation_concrete_floor.pdf
70. Reinforced concrete design theory .pdf
71. Structural Details In Concrete.zip
72. Reinforced_concrete_designers_handbook_10th_edition
73. Design of reinforced concrete floor systems.pdf
74.Concrete_Bridge_Engineering_Performance_and_Advanced.pdf
75. Design of Prestressed Concrete – Gilbert & Mikleborough.pdf
76. DG 06 LRFD of W Shapes encased on Concrete.pdf
77. Post-Tensioned Prestressed Concrete.pdf
78. Etabs Concrete Frame Design Manual.pdf
79. Cost optimization of singly and doubly reinforced concrete beams.pdf
80. Reinforced Concrete Mechanics & Design (James G.MacGregor).pdf

Literatur Teknik Sipil :

1. Civil Engineering Handbook, Second Edition, The.pdf
2. Handbook of Civil Engineering Calculation.pdf
3. CIVIL ENGINEERING BRIDGE The Bridge Engineering Handbook 35-67 Ebook-Een.pdf
4. The Civil_Engineering_Handbook-2Ed.pdf
5. Civil Engineering Handbook 2nd Ed – W.F.Chen.pdf

Balok Prategang :

1. PRESTRESSED CONCRETE.rar
2. Prestressed Concrete.zip
3. Design of prestressed concrete slabs.pdf
4. Design of Prestressed Concrete – Gilbert & Mikleborough.pdf
5. Post-Tensioned Prestressed Concrete.pdf
6. Design of Prestressed Concrete.pdf
7. Prestressing works & Bearing and Joints.zip
8. Introduction to prestressed concrete.pdf
9. Prestressing works Rev1.zip
10. Design prestress concrete
11. PCI_Precast_prestressed_concrete_handbook.pdf
12. PrestressBeamEx.pdf
13. The prestressed precast concrete beams.pdf

Pondasi :

1. Fundation Fieldbus.pdf
2. Benford Gregory – Fundation’s Fear (versóon ingles).pdf

Baja :

1. HandBook of Structural SteelWork.pdf
2. Steel_structure_shokri.rar
3. Detailing for steel construction.pdf
4. Steel designers’ manual – 6th ed.pdf
5. Code of practice for the structural use of steel.pdf
6.  Steel bridge bearing design and detailing guidelines.pdf
7. Structural steelwork analysis and design.pdf
8. Design with structural steel – a guide for architects.pdf
9. Joints in steel construction – moment connections.pdf
10. Handbook_Of_Structural_Steel_Connection_Design_&_Detail.pdf
11. Etabs steel frame design manual.pdf
12. DESIGN OF COLD-FORMED STEEL STRUCTURES.pdf
13. Engineering – Structural Steel Designer’s Handbook (3rd Edition).rar
14. Manual of Steel Construction LRFD I-II(3ed).pdf
15. Durability of Light Steel Framing in Residential Building – SCI.pdf
16. Manual The Design of Steelwork Building Structures to EC3.pdf
17. Manual of Steel Construction LRFD 2003.pdf
18. Structural steel welding.pdf
19. Notes on design of steel parking structures including seismic effects.pdf
20. Steel.design.handbook.rar
21. Steel-designers-manual-5th-edition-part1-1.pdf
22. Steel members Design.rar
23. STAINLESS STEEL MANUAL.99.pdf
24. Fema350–RECOMMENDED_SEISMIC_DESIGN_CRITERIa.pdf
25. Structural Steel Design.pdf
26. DESGIN MANUAL FOR STEEL STRUCTURES H-000-1330-901-00C-001.doc
27. Seismic Design of Bolted Steel Moment-Resisting Frames.pdf
28. The design of Modern Steel Bridges.rar
29. Structural steelwork- design to limit state theory, 3Rd edit.rar

Baja Kastela :

1. Software_didactico_en_castellano_power_quality_teaching
2. Ares regular 2.0.9. spanihs castellano_ShareAccelerator.exe
3. Castellano Carmen.rar
4. Manual-wordpress-castellano.pdf
5. Castellano.pps

Kayu  :

1. [Architecture Ebook] Wood Handbook – Wood as an Engineering Material.pdf
2. [Architecture Ebook] Guide for Sound Insulation in Wood Frame Construction – NRC.pdf
3. [Architecture Ebook] Outstanding Wood Buildings – CWC.pdf
4. Woodbox.zip
5. Plain wood frame.zip
6. Woodworking Tools.rar
7. Autocad DWG Details – Wood Frame Construction.zip

Peraturan Beton & Baja :

1. IBC – International_Building_Code_2006.pdf
2. Code Check – Building.pdf
3. National Building Code of Canada 2005 Volume 2.pdf
4. National Building Code of Canada 2005 Volume 1.pdf
5. [Architecture Ebook] Code Check Building – A field guide to the building codes .pdf
6. Code of Standard Practice for Steel Buildings and Bridge 2000.pdf
7. 2003 Ibc Commentary(Icc, Commercial Building Code).pdf
8. BUILDING CODE REQUIREMENTS FOR STRUCTURAL CONCRETE.pdf
9. International Building Code (IBC) (2006).pdf
10. ACI-318R-2008 (Building Code Requirements for Structural Concrete and Commentary).pdf
11. Code Check Building – A field guide to the building codes .pdf
12. international_building_code_2006.zip
13. Uniform Building Code Volume 2(1997).pdf
14. Code_Check_-_Building.pdf
15. ACI 318-05 Building Code Requirements For Structural Concret.pdf
16. Uniform Building Code Volume 2 1997.pdf
17. 2003 International Building Code.pdf
18. Code Check Building_OCR.djvu
19. National Building Code of Canada 2005 Volume 2.pdf
20. National Building Code of Canada 2005 Volume 1.pdf


Leave a comment

Pelabuhan Udara

sipil – Pelabuhan udara adalah tempat di daratan yang dipersiapkan untuk penempatan, pendaratan, dan pemberangkatan pesawat terbang beserta penumpangnya. (didukung oleh fasilitas keselamatan penerbangan dan layanan penumpang)

Sejarah Transportasi Udara :

1930 – 1950 = Pertumbuhan kurang pesat

Setelah 1950 = Pertumbuhan penggunaan pesawat terbang meningkat hingga mencapai 13% pertahun

Persentase angkutan udara terhadap total angkutan

Transportasi udara merupakan :

  • cermin taraf kehidupan masyarakat
  • cermin tingkat kesibukan / kepentingan
  • cermin nilai ‘waktu’ mahal (time is money)
  • menunjukkan perhitungan jarak dalam  satuan waktu tempuh
Transportasi udara berpengaruh terhadap beberapa hal yaitu :
  1. kehidupan ekonomi,
  2. sosial kemasyarakatan,
  3. sistem Hankam,
  4. politik,
  5. budaya,
  6. Iptek,
  7. informasi/ komunikasi,
  8. lain-lain.

Dasar pertimbangan pemilihan transportasi udara yaitu :

  1. tingkat kepentingan,
  2. waktu / jarak,
  3. biaya,
  4. kenyamanan.
Pertimbangan keamanan menjadi syarat mutlak

Beberapa jenis transportasi udara yaitu :

  • angkutan umum
  • angkutan massal
  • angkutan jarak sedang / jauh
  • angkutan khusus (militer)
  • angkutan pribadi
Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) – badan khusus PBB bertujuan antara lain :
  1. Menjamin keselamatan dan pertumbuhan penerbangan sipil yang wajar
  2. Mendorong disain pesawat dan pengoperasian untuk perdamaian
  3. Mendorong pengembangan jalur udara, bandar udara, fasilitas navigasi untuk penerbangan internasional
  4. Memenuhi kebutuhan manusia akan transportasi udara yang cepat, aman, nyaman
  5. Mencegah pemborosan ekonomi akibat persaingan yang tidak wajar
  6. Menjamin hak2 negara2 untuk melakukan penerbangan internasional
  7. Menghindarkan diskriminasi
  8. Mempromosikan keselamatan penerbangan & navigasi internasional
  9. Meningkatkan pengembangan aeronautika sipil internasional
  10. Menjalin komunikasi antar anggota, dengan dikeluarkannya Aerodromes Annexe 14
Ada 2 jenis angkutan udara yaitu :
  1. General Aviation : pertanian, penyemprotan hama, instruksional, survai, pemetaan, dan lain-lain.
  2. Air Carrier : penerbangan komersial untuk penumpang oleh perusahaan penerbangan
Layanan penerbangan ada 2 macam yaitu :
  1. Domestic flight: melayani penerbangan antar pulau / antar kota dalam satu negara
  2. International flight: melayani penerbangan antar negara

Jenis (mesin) pesawat :

1. Piston engine aircraft : dijalankan dengan tenaga propeller – mudah sekali dikenali dari baling-balingnya

2. Turbin power aircraft : pesawat jet; yang masih dikelompokkan lagi dalam:

a. Turbo prop : mesin jet berpropeller dilengkapi turbin seperti F27 (Fokker 27)

b. Turbo jet : tanpa propeller, khusus dari turbinnya

c. Turbo fan : Turbo jet ditambah kipas yang biasanya diletakkan di depan mesin jet

Data perencanaan lapangan terbang yaitu :

  • Ukuran (size)
  • Berat (weight)
  • Kapasitas (capacity)
  • Panjang landasan pacu (runway’s length)

Berat pesawat menentukan :

  • tebal perkerasan runway
  • tebal perkerasan taxiway
  • tebal perkerasan apron
  • panjang runway untuk take off
  • panjang runway untuk landing

Tampak Depan

Bentangan sayap dan panjang badan pesawat mempengaruhi :

  • ukuran apron
  • ukuran hanggar
  • susunan gedung-gedung terminal
  • lebar landasan pacu
  • lebar landasan hubung
  • jarak landasan pacu – landasan hubung
  • jari-jari manuver
Airport System
Airport System adalah keseluruhan dari segala sesuatu yang ada di pelabuhan udara.
Sistem ini terdiri atas:
  •  Land side : urusan daratan di airport
  •  Air side : urusan penerbangan di airport
  •  En route : penerbangan di angkasa; jadi bukan bagian dari airport lagi

Komponen Berat Pesawat :

1. Berat Kosong Operasi (Operating Weight Empty) :

Adalah berat seluruh pesawat termasuk awak pesawat (tidak termasuk payload dan bahan bakar)

2. Berat Muatan (Payload) :

Adalah berat seluruh muatan yang menghasilkan pendapatan seperti penumpang, bagasi, surat-surat dan barang muatan lainnya

3. Berat Bahan Bakar Kosong (Zero Fuel Weight) :

Adalah berat yang mana di atas batas berat itu tambahan berat haruslah berupa bahan bakar. Saat pesawat miring ke samping, cairan bahan bakar tidak terkumpul ke satu sisi.

4. Muatan Struktur Maksimum (Maximum Structural Payload) :

Adalah beban maksimum yang boleh (diizinkan) diangkut pesawat terbang, baik berupa penumpang, barang muatan, atau gabungan keduanya.

5. Muatan Maksimum (Maximum Payload) :

Biasanya lebih kecil dari Maximum Structural Payload (mengingat susunan/ batasan ruangan)

6. Maximum Structural Landing Weight (Bobot Pendaratan Struktur Maksimum) :

Bobot ini adalah kemampuan struktur pesawat dalam pendaratan.

7. Maximum Structural Take Off Weight (Bobot Lepas Landas Struktur Maksimum) :

Bobot maksimum yang diperbolehkan pada saat lepas landas.

Gambar Situasi Bandara Adisucipto Yogyakarta

Denah Bandara Adisucipto

Konfigurasi Apron Bandara Adisucipto Yogyakarta

Beberapa jenis pesawat dan spesifikasinya


Leave a comment

Perencanaan Sistem Pelabuhan Udara

ilmu sipil – Proses perencanaan yang sedemikian rumitnya sehingga analisis satu kegiatan harus memperhitungkan pengaruhnya pada kegiatan yang lain, agar menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.

Kegiatan suatu bandara mencakup sekumpulan kegiatan yang luas dan mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda dan seringkali bertentangan. Kegiatan tersebut saling tergantung satu sama lainnya sehingga suatu kegiatan tunggal dapat membatasi kapasitas dari keseluruhan kegiatan.

Perencanaan kegiatan bandar udara yang ada saat ini biasanya sudah direncanakan dan mempertimbangkan kebutuhan di masa yang akan datang. Rencana kegiatan bandara di masa yang akan datang tersebut dibuat dalam sebuah dokumen yang dinamakan dengan Rencana Induk bandara.

Agar semua upaya perencanaan bandara dimasa datang berhasil dengan baik, maka semua kegiatan yang dilakukan harus didasarkan kepada pedoman-pedoman yang dibuat dalam sebuah rencana induk.

Sistem bandar udara dibagi menjadi 2 bagian:

  1. Sisi darat (landside)
  2. Sisi Udara (airside)

Sebagai pemisah dari kedua bagian tersebut adalah terminal.

Sistem Bandar Udara

RENCANA INDUK BANDAR UDARA

Definisi : Konsep pengembangan bandar udara sampai pada tahap ultimate dari suatu bandar udara.

Tujuan dari rencana induk (masterplan): memberikan pedoman bagi pengembangan bandar udara di masa depan yang akan memenuhi tuntutan penerbangan dan sesuai dengan lingkungan, perkembangan masyarakat dan cara-cara transportasi lainnya.

Rencana induk ini merupakan pedoman bagi :

  1. Pengembangan fasilitas fisik dari suatu bandara
  2. Pengembangan lahan di dan sekitar bandara
  3. Menetapkan pengaruh-pengaruh konstruksi dan operasi-operasi bandar udara terhadap lingkungan
  4. Penetapan kebutuhan jalan masuk
  5. Penentapan kelayakan ekonomis dan keuangan dari pengembangan-pengembangan yang diajukan
  6. Penetapan jadwal prioritas dan pentahapan bagi perbaikan-perbaikan yang diajukan dalam rencana induk

Filosofi :

Penyediaan keseluruhan kebutuhan baik bagi pesawat, penumpang, barang, dana investasi yang paling minimum, penumpang yang maksimum, serta hubungannya dengan lingkungan, kemudahan bagi operator dan staff penggunan bandara serta hubungannya dengan lingkungan di sekitar bandara sehingga merupakan kondisi efisien, aman dan nyaman.

Tujuan Umum :

Sebagai pedoman bagi pengembangan bandara di masa mendatang.

Tujuan Khusus:

Sebagai pedoman :

  1. Pengembangan fisik & Land use
  2. Pengembangan lahan di sekitar bandara
  3. Penetapan jalan masuk
  4. Penetapan efeknya terhadap lingkungan dari segi konstruksi dan operasi bandara
  5. Analisa Biaya Ekonomi dimasa mendatang

Rencana induk (masterplan) minimal harus meliputi unsur-unsur berikut:

  1. Ramalan kebutuhan/permintaan yang meliputi proyeksi operasi penerbangan, jumlah penumpang, volume barang dan lalulintas angkutan darat. Ramalan tidak hanya dibuat untuk ramalan tahunan, tetapi juga termasuk ramalan pada jam sibuk harian
  2. Alternatif pemecahan persoalan, dari kebutuhan yang diramalkan secara memadai dan memuaskan. Setiap alternatif pemecahan persoalan harus memperhatikan pengaruh-pengaruhnya terhadap lingkungan, keselamatan dan ekonomi
  3. Analisa biaya investasi. Analisa dilakukan terhadap biaya pembangunan, apakah dana yang dikeluarkan untuk suatu fasilitas bermanfaat, dan apa manfaatnya?. Analisa biaya investasi serta keuntungannya haruslah termasuk dalam keuntungan langsung maupun tidak langsung sehingga memberikan banyak pilihan bagi pengambil keputusan untuk bahan pertimbangan.
  4. Pengaruh lingkungan dan alternatif mengatasinya. Pengembangan sebuah bandara akan mengundang minat kalangan luas, pemakai bandara dan penyedia jasa dsb. Dalam tahap penyusunan rencana induk, pihak-pihak tersebut harus diajak berkonsultasi agar tidak terjadi ketimpangan dalam isinya.

KEBUTUHAN SEBUAH BANDARA

Langkah awal dalam mempersiapkan rancangan induk sebuah bandara adalah

  1. pengumpulan data dari fasilitas lapangan terbang yang sudah ada dan usaha-usaha merancang pada areal yang luas
  2. Konsultasi dengan pihak-pihak terkait (Ditjenud, Pemda, Perusahaan penerbangan dan stakeholder lainnya)
  3. Mengumpulkan data-data operasional terutama data lalulintas pesawat, penumpang, barang dan pos yang diangkut dengan pesawat
  4. Melakukan kajian (review) peraturan-peraturan penerbangan yang berlaku, baik nasional maupun internasional (ICAO, FAA dll)
  5. Pengumpulan data sosio ekonomi (jumlah penduduk, aktivitas ekonomi dan tata guna lahan sebagai dasar pertimbangan dalam melakukan peramalan fasilitas apa saja yang dibutuhkan dan besarannya.

KEBUTUHAN FASILITAS

Fasilitas pada suatu bandara :

  1. Landing Movement (LM)
  2. Terminal Area, dan
  3. Air Traffic Control (ATC)

Landing Movement :

  1. Runway (landas pacu)
  2. Taxiway (penghubung landas pacu)
  3. Apron (tempat parkir pesawat

Terminal Area :

Merupakan areal utama yang mempunyai interface antara lapangan udara dan bagian-bagian dari bandara yang lain (fasilitas pelayanan penumpang (passenger handling system), penanganan barang kiriman (cargo handling), perawatan dan administrasi bandara.

Air Traffic Control (ATC) :

Merupakan fasilitas pengatur lalu lintas udara dengan berbagai peralatannya seperti sistem radar dan navigasi.

PEMILIHAN LOKASI BANDARA

Beberapa faktor / kriteria dalam pemilihan lokasi bandar udara :

  1. Tipe pengembangan lingkungan sekitar
  2. Kondisi atmosfir
  3. Kemudahan untuk mendapatkan transportasi darat
  4. Tersedianya lahan untuk pengembangan
  5. Adanya lapangan terbang lain
  6. Halangan sekeliling (surrounding obstruction)
  7. Pertimbangan ekonomis
  8. Tersedianya utilitas (PLN, PAM, Telepon, Depo BBM dll)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UKURAN BANDAR UDARA

  1. Karakteristik dan ukuran pesawat yang direncanakan menggunakan bandara tersebut
  2. Perkiraan volume penumpang
  3. Kondisi meteorologi (angin dan temperatur)
  4. Ketinggian dari muka air laut (mean sea level)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.